SELAMAT DATANG DI CORPS NEWS 
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
Saat Black Out, PLTA Saguling Ternyata yang Menjadi Black Start

Saat Black Out, PLTA Saguling Ternyata yang Menjadi Black Start

BAGIKAN :

CORPSNEWS,JAKARTA. – Pada Agustus 2019 lalu terjadi pemadaman listrik (black out) di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Matinya listrik hingga kurang lebih 8-18 jam membuat berbagai aktivitas masyarakat lumpuh seketika.

Lalu bagaimana upaya PT PLN untuk mengatasi masalah ini? Bisa jadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling salah satu jawabannya.

PLTA Saguling yang berlokasi di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dalam sistem ketenagalistrikan perannya sangat penting.

BACA JUGA:

Ternyata Kapal Perang China Yang Usik RI di Natuna Bawa Rudal Dahsyat Pemusnah!

 

 

Pembangkit berkapasitas 4×175,18 MW tersebut merupakan pembangkit pendukung beban puncak di Sistem Jawa-Bali, juga berfungsi sebagai pengatur frekuensi sistem dengan menerapkan Load Frequency Control (LFC).

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Wanhar menyampaikan hal tersebut saat mewakili Dirjen Ketenagalistrikan dalam mendampingi Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR ke PLTA Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (16/9).

“Jika terjadi black out, PLTA Saguling masih dapat dioperasikan sebagai black start sekaligus berperan menjadi pengisian tegangan untuk menopang pembangkit listrik PLTU Suralaya,” ujar Wanhar.

Wanhar lalu menyampaikan tiga fungsi PLTA Saguling, yakni sebagai baseloadstabiliser, dan untuk mengurangi emisi karena menggunakan energi baru terbarukan (EBT).

“Yang paling penting, ini adalah pembangkit masa depan, bisa dikombinasikan dengan solar photovoltaic (PV) di waduknya,” kata Wanhar.

Pernyataan Wanhar ini senada dengan paparan Direktur Bisnis Regional Jawa, Madura, Bali PT PLN (Persero) Haryanto WS dan Direktur Utama PT Indonesia Power Ahsin Sidqi dalam kesempatan yang sama.

Pemerintah terus mendorong pengembangan EBT untuk mencapai target 23% pada 2025. Dalam pengembangan EBT, PLTA Saguling memiliki konstribusi sebesar 2% dari total pembangkit EBT jenis hidro (4,53%) yang terhubung dengan sistem jaringan 500 kV Jawa-Bali.

“Saya ingin membangun paradigma atau sudut pandang baru dalam melihat pengawasan. Yang awalnya simbolik, menjadi problem solver. Setiap institusi pasti punya masalah. Kami di Komisi VII hadir untuk menjembatani bottle neck. Apa yang jadi masalah, sampaikan ke kami. Itu semangatnya, biar sama-sama satu frekuensi,” kata Maman Wakil Ketua Komisi VII DPR Maman Abdurrahman

BACA JUGA:

 

Kunjungan Kerja Pangkoopsau II di Lanud Muljono

“Menurut saya listrik itu bukan hanya tentang menurunkan air untuk memutar turbin menjadi listrik, tapi ternyata ada masalah gulma. Bagaimana caranya supaya (supply) tidak stop sama sekali. PLTA Saguling juga mendukung sistem Jamali (Jawa, Madura, Bali – red). Kalau satu sistem rontok, rontok juga yang lain. Harus diperhatikan penjagaan aspek keselamatan atau security secara sistem,” ujar Tifatul.

Pada 2021, PLTA Saguling yang dioperasikan PT Indonesia Power memiliki target untuk menjadi penyedia bahan baku cofiring dari gulma eceng gondok yang selama ini tidak dimanfaatkan. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pendangkalan pada waduk dan juga mendukung pelaksanaan cofiring pada PLTU.

Program Biomass Operating System of Saguling (BOSS) tersebut merupakan program unggulan PT Indonesia Power dalam mewujudkan program “Saguling Clean”, yakni waduk Saguling yang bersih dari sampah dan gulma eceng gondok.

Kunjungan kerja ke PLTA Saguling dihadiri oleh perwakilan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN (Persero), PT Indonesia Power, Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat, dan pemerintah daerah Kabupaten Bandung Barat.( gema )

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

!-- Composite Start -->